Kisah Monyet dan Buaya
Halo sahabat setia SKM, semoga sahabat semua dalam keadaan baik-baik saja. Kali ini sebuah kisah menarik tentang persahabatan monyet dan buaya, bagaimana kisahnya? mari kita simak..
Dahulu kala, terdapatlah seekor monyet yang bertempat
tinggal di sebuah pohon duku di tengah hutan yang kebetulan pada saat itu sedang
berbuah lebat.
Di bawah pohon itu terdapat sungai yang airnya
mengalir tenang.
Si monyet senang sekali dengan buah duku dan setiap
kali ia makan duku selalu saja ia menjatuhkan sebagian buah duku yang ia makan.
Ia sengaja berbuat itu siapa tahu ada binatang lain yang ingin makan duku tapi
tak bisa memanjat pohon. Monyet itu memang seekor monyet yang baik hati.
Dan benar saja, di bawah sana ada seekor buaya yang
juga sangat suka makan buah duku, sehingga setiap kali monyet menjatuhkan buah
itu dia merasa sangat senang dan berterima kasih pada monyet.
Maka buayapun berkenalan dan berteman dengan si
monyet, mereka berduapun menjadi teman karib yang sering pergi bersama.
Keakraban monyet dan buaya menyebabkan buaya jarang
pulang ke rumah. Tentu saja istri buaya itu merasa tak senang karena kesepian.
Maka dalam perkumpulannya dengan sesama buaya betina, dia berkata: “tolonglah
siapa saja diantara kalian yang tahu kenapa suamiku belakangan ini jarang
pulang?”
Maka salah satu diantara mereka menawarkan diri untuk
membantu istri buaya untuk mencari informasi.
Sampai pada akhirnya buaya betina itu berkata pada
istri buaya: “suamimu sekarang berteman dengan monyet, mereka sering pergi dan
menghabiskan waktu bersama, tapi kau tak perlu resah aku ada ide untuk
mengembalikan kebahagiaanmu”.
Lalu buaya betina itu memberitahu istri buaya ide yang
dia peroleh:” nanti jika suamimu pulang, pura-puralah sakit, katakan kepadanya
bahwa sakitmu adalah sakit yang parah yang tidak bisa sembuh kecuali dengan
makan hati seekor monyet”.
Tanpa berpikir panjang istri buayapun setuju dan akan
melakukan apa yang disarankan oleh buaya betina itu.
Sampai pada saatnya buaya jantan pulang ke rumah,
terkejutlah ia mendapati istrinya yang tengah berbaring kesakitan.
“Apa yang terjadi padamu, wahai istriku” tanya buaya
pada istrinya.
“beberapa hari ini aku sakit, yang kurasakan semakin
berat, mungkin tak lama lagi waktuku di dunia ini” jawab istri buaya.
Buaya jantan menjawab: “jangan berkata begitu
istriku, aku sungguh-sungguh mencintaimu dan tak ingin berpisah denganmu,
apapun akan aku lakukan agar kamu sembuh”
“dalam tidurku tadi, aku melihat kakekku mengatakan
sakitku ini akan sembuh jika aku makan hati seekor monyet, aku yakin akan
kebenaran mimpiku itu, jadi usahakanlah kesembuhan istrimu ini, bukankah kamu
punya teman seekor monyet?” kata istri buaya.
“aku tak mungkin membunuhnya, ia sahabatku, ia sangat
baik padaku,” jawab buaya jantan.
Maka istri buaya menjawab lagi:“sekarang terserah
padamu wahai suamiku, mana yang kau pilih, istrimu atau monyet sahabatmu
itu”
Buaya jantan hanya terdiam dalam kebingungan. Lalu
istri buaya kembali meyakinkan: “carilah ide agar ia mau menyerahkan hatinya
untuk aku makan, kalau ia temanmu ia pasti rela berkorban untukmu, atau biarkan
saja aku mati”
Maka pergilah buaya jantan itu menemuai monyet untuk
meminta hatinya. Namun ia akan melakukan suatu tipu muslihat.
Setelah berbasa-basi, buaya berkata pada monyet: “hai
kawanku, telah banyak kebaikanmu yang ku terima, namun aku belum pernah
sekalipun membalas kebaikanmu, bagaimana kalau hari ini aku mengajakmu untuk
makan bersama di rumahku”.
“benarkah itu buaya, aku sungguh sangat beruntung
punya teman sebaik kamu” jawab monyet.
“ayo kita berangkat, naiklah ke atas punggungku” kata
buaya.
Maka dengan membawa monyet diatas punggungnya buaya
berenang menyusuri sungai. Baru beberapa meter berenang, buaya tiba-tiba
berhenti dan berkata pada monyet: “monyet temanku, sebenarnya istriku sedang
sakit, sehingga nanti apa yang akan aku hidangkan hanya makanan yang sederhana”
“tidak apa-apa wahai buaya, kamu mengajak aku
kerumahmu saja aku sudah sangat senang, sebenarnya apa sakit istrimu itu buaya?”
kata monyet.
“itulah yang membuat aku sedih, sakitnya sangat parah
dan obatnya sulit dicari” jawab buaya.
“kalau boleh tahu, apa obatnya, siapa tahu aku bisa
membantumu?”
“kata istriku, ia akan sembuh kalau makan hati seekor
monyet, bolehkah aku minta hatimu untuk menyembuhkan istriku?” jawab buaya.
Sampai disini monyet menyadari bahwa buaya menipunya
dan menghianati persahabatannya. Maka monyet dengan segera mencari akal untuk
menyelamatkan diri. Jika ia menolak permintaan buaya, bisa saja si buaya marah
dan menenggelamkan monyet di tengah sungai. Dan diperolehlah akal itu.
Monyet berkata :“ buaya, kenapa kamu tidak bilang
dari tadi kalau mau minta hatiku?”
“Lha memangnya kenapa nyet?” tanya buaya.
“lho kau belum tahu ya, dikalangan monyet, itu ada
kebiasaan jika akan bepergian hatiya tidak dibawa, tapi di tinggal dirumah,
begitu juga dengan aku, sekarang hatiku tidak ku bawa, ayo antarkan aku pulang
untuk mengambil hatiku” jawab monyet.
Maka berbalik pulanglah buaya dan monyet, begitu
sampai dibawah pohon duku, monyet langsung meloncat ke atas dan tidak turun
lagi sampai buaya memanggilnya.
“hai monyet, kenapa lama sekali, katanya mau ambil
hati?sudah ketemu belum hatimu?” kata buaya.
“untuk apa?mau kamu ambil?”
“iyaaa...”
“dasar buaya bodoh! Pergilah kau! Pulanglah pada
istrimu dan beritahu padanya agar membuang harapannya untuk makan hati seekor
monyet”
“hah kurang ajar... jadi kau menipuku monyet?”
“kau juga menipuku, istrimu juga menipumu buaya! Coba
periksa lagi apakah istrimu benar-benar sakit! Kau hanya terlalu menuruti
keinginan istrimu tanpa memandang persahabatan kita” kata monyet.
“benarkah demikian? Maafkanlah aku monyet, aku
menyesal”.
“Pergilah buaya, kamu bukan sahabatku lagi” kata
monyet.
“maafkan aku monyet, aku telah mengecewakanmu”
“pergilah buaya, aku memang tak cocok berteman
bintang buas sepertimu” jawab monyet.
Dan pergilah buaya dengan penyesalan yang tiada guna.
Sahabat SKM, dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran : janganlah
mudah percaya suatu berita sebelum kita cek kebenarannya karena jika kita
ceroboh dapat merugikan diri sendiri.

Comments
Post a Comment