Kisah Monyet Yang Licik dan Burung Bangau
Sahabat SKM yang baik, kisah berikut agaknya akan menegaskan pada kita sebuah ungkapan bahwa siapa yang menanam maka dia akan memetik, bagaimana kisahnya, langsung ke TKP...
Di sebuah hutan, hiduplah seekor monyet yang berperangai buruk, licik, egois dan suka menipu teman-temannya. Sehingga tak mengherankan jika si monyet sering berjalan sendirian karena tak memiliki teman.
Di sebuah hutan, hiduplah seekor monyet yang berperangai buruk, licik, egois dan suka menipu teman-temannya. Sehingga tak mengherankan jika si monyet sering berjalan sendirian karena tak memiliki teman.
Namun diantara binatang-binatang hutan, masih ada yang
mau berteman dengan monyet, yaitu si burung bangau.
Hal ini terjadi bukan berarti burung bangau tak
mengerti sifat monyet, ia bahkan sangat mengerti dan sudah berulang kali ia
kecewa dan sakit hati oleh sifat monyet yang buruk itu.
Ia hanya kasihan jika monyet tak memiliki satu
temanpun. Burung bangau juga berharap
agar monyet dapat memperbaiki sifatnya, namun harapan itu sangat sulit
terwujud.
Hingga pada suatu hari,,,
Monyet berkunjung ke rumah bangau dan mengajaknya
pergi ke suatu tempat.
“hai bangau, ayo kita pergi ke pulau seberang, disana
banyak makanan untuk kita, banyak pisang yang matang sebagai makananku, dan
juga banyak katak makanan kesukaanmu, ayo kita kesana” ajak monyet pada bangau.
“seberang pulau mana, jauh tidak?” tanya bangau.
“itu Cuma dekat kok, gak jauh lho, aku dah pernah ke
sana” jawab monyet dengan menipu karena jaraknya cukup jauh dan monyet belum
pernah ke sana, ia hanya mendapat cerita dari burung elang.
“lalu bagaimana cara kita kesana, kalau aku kan bisa
terbang, emangnya kamu mau berenang?”tanya bangau lagi.
“ya justru itu aku mengajakmu karena aku gak bisa
terbang, jadi aku mau minta tolong kamu terbang dengan membawa aku” jawab
monyet
“tapi tubuhmu besar, pasti berat, apa aku kuat
mengangkatmu?” tanya bangau
Monyetpun menjawab “ayolah bangau, jangan pesimis
gitu, kita coba dulu, aku yakin kamu pasti kuat mengangkatku?”
Bangau kembali bertanya: “ lalu bagaimana caranya aku
mengangkatmu?”
“oh itu mudah saja bangau, peganglah batang kayu ini
dengan kakimu, cengkram yang kuat lalu aku nanti berpegangan pada kayu itu saat
kita terbang” jelas monyet
Setelah diyakinkan monyet, bangaupun akhirnya terbang
menuju pulau itu dengan perjuangan keras karena ia membawa beban yang sangat berat,
yaitu si monyet.
Setelah beberapa lama terbang, sampailah mereka
berdua di pulau tersebut.
Si monyet dengan tanpa basa basi langsung memanjat
pohon pisang dan makan sepuasnya tanpa memperhatikan bangau yang masih
terbaring kelelahan.
Setelah cukup beristirahat, bangaupun mulai melihat
sekeliling untuk mencari katak seperti yang diceritakan monyet.
Ternyata di pulau itu tidak ada katak sama sekali.
Dan untuk kesekian kalinya burung bangau itu tertipu
oleh monyet.
Dengan kesal ia memanggil monyet yang masih makan di atas pohon pisang.
“hai monyet, mana katak yang kamu ceritakan itu,
katamu banyak, mana?” tanya bangau dengan emosi.
Dengan santai dan tanpa merasa bersalah monyet
menjawab “coba kamu cari lagi dengan teliti, mungkin belum ketemu aja”
Akhirnya bangau kembali mencari katak di pulau itu,
namun setelah hampir seluruh pulau ditelusurinya memang tak ada katak sama
sekali. Baru ia sadari kalau monyet menipunya.
Bangau sebenarnya sudah sering menasehati monyet agar
memperbaiki sifat buruknya, dan sering mengingatkan bahwa sifat buruk akan
membinasakannya sendiri, tapi tak pernah digubris oleh monyet.
Untuk sedikit melepas rasa laparnya, burung bangau
hanya makan binatang kecil di sekita pantai yang tentu saja tak membuatnya
kenyang.
Saat sedang mencari makanan itu tiba-tiba monyet
dengan wajah tanpa dosanya menghampiri bangau, sambil bertanya
“bangau, dapat banyak kan kataknya?”
Bangau menjawab “gak ada katak sama sekali, kamu
menipu aku ya?”
“ooo kalau itu gak tahu, soalnya aku juga cuma dapat
cerita dari burung elang. “ jawab monyet dengan ringan
“ayo kita pulang yok, hari dah mau gelap, lagipula
dah kenyang aku, hoek....” kata si monyet sambil bersendawa.
“Iya kamu nyet, dah kenyang, lha bagaimana dengan
aku? aku belum kenyang nyet!” jawab bangau
Monyet menjawab “gampang itu nanti saja kamu cari
makan lagi di rumah, nanti aku bantu, sekarang kita pulang dulu aja, nanti bisa
kemalaman”
Akhirnya bangaupun setuju untuk pulang.
Namun dia mengatakan pada monyet "aku dah gak kuat ngangkat kamu monyet, tadi sebelum makanpun tubuhmu dah berat, apalagi sekarang setelah makan, kamu pasti tembah berat"
Lalu monyet menjawab “ lha terus aku gimana kalau
kamu gak ngangkat aku, apa kamu tega nyuruh aku berenang, padahal kamu tahu
sendiri aku kan gak bisa berenang”.
“begini saja nyet, kita cari kayu kering untuk membuat
rakit yang kita pakai untuk berlayar pulang, bagaimana menurutmu?” jawab
bangau.
Monyetpun setuju, dengan cepat mereka membuat rakit
karena hari menjelang gelap.
Setelah selesai, merekapun menyeberangi laut dengan
mendayung rakit itu, masih saja monyet yang egois itu menyuruh bangau yang
mendayung, sedangkan ia hanya enak-enakan berbaring karena kekenyangan.
Cuaca masih bersahabat sampai beberapa saat mereka
berlayar, namun begitu mereka berada ditengah lautan, ombak yang semula normal
mendadak bergolak disertai angin yang kencang dan hujan deras.
Saat itu monyet dalam keadaan sangat takut dan panik,
sebaliknya bangau tetap merasa tenang, karena dia bisa terbang, meski ia
khawatir juga dengan keadaan monyet jika rakit benar-benar remuk.
Dengan cuaca yang buruk itu tentu saja rakit yang
mereka tumpangi terombang-ambing diterjang badai, dan remuklah rakit itu.
Terhempaslah monyet ke dalam air laut dan berteriak:
“ba.. bangau... to...to...long a...aku....ba ngau” kata monyet yang timbul
tenggelam sambil minum air laut yang terlanjur masuk dalam mulutnya.
Melihat itu, bangau sungguh merasa iba dengan kondisi
monyet yang mungkin akan segera menemui ajalnya, namun bangau bingung harus
berbuat apa, ia hanya bisa terbang di atas monyet yang timbul tenggelam dalam
air.
Ia mencoba mendekat ke arah monyet agar monyet dapat
meraih kakinya, namun sangat sulit karena terjangan ombak yang begitu dahsyat
sehingga monyet terhempas kesana kemari dan kesulitan untuk menjangkau kaki
bangau yang mendekat padanya.
Karena kelelahan dan terlalu banyak minum air laut,
lemaslah monyet, tak mampu lagi untuk muncul ke permukaan dan tenggelamlah
monyet itu.
Bangau menyaksikan itu dengan sedih karena ia tak
mampu menolong monyet, setelah yakin monyet benar-benar tenggelam dan tak ada
harapan lagi untuk menolongnya bangaupun pulang dengan perasaan sedih.
Sahabat SKM, dari kisah ini, dapat diambil pelajaran pada bahwa
cepat atau lambat, kita akan memetik apa yang kita lakukan, jika perbuatan baik
maka akan memperoleh kebaikan dan sebaliknya.

Comments
Post a Comment