Kisah Pemancing dan Ikan Gabus
Halo sahabat SKM, kali ini saya akan berkisah tentang seseorang yang tak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya, dan akhirnya membawanya pada penyesalan, bagaimana kisahnya? mari kita simak..
Beberapa ratus tahun yang lalu, di sebuah hutan tinggallah seorang pemuda yang bertahan hidup sebagai seorang nelayan.
Beberapa ratus tahun yang lalu, di sebuah hutan tinggallah seorang pemuda yang bertahan hidup sebagai seorang nelayan.
Sebagai nelayan dengan peralatan terbatas tentu saja
tak dapat memastikan berapa penghasilannya sehari-hari, sehingga kehidupannya
sangat sederhana.
Suatu hari ia mulai mengulurkan kailnya ke tengah
danau untuk memancing, namun tidak juga memperoleh satu ikan pun sampai hari
menjelang sore.
Setelah hampir putus asa, tali kailnya bergerak-gerak
ada yang menariknya, dengan gembira ia angkat dan mendaratlah seekor ikan gabus
yang tak seberapa besar.
Dengan geram, ia berkata pada ikan gabus itu; “aha,,
kamu akan ku jadikan ikan bakar.... hemmmm...”
Dan ajaib, ikan gabus itu, menitikkan air mata sambil
berkata: “tolong lepaskan aku wahai pemuda, jangan kau bunuh aku, jika kau
bebaskan aku maka aku akan berikan sesuatu yang sangat berharga”
“alah aku tak akan tertipu, kamu ikan gabus mau menipuku, ha?” jawab si pemancing
“sungguh, aku memiliki sesuatu yang ajaib yang bisa
memberi semua harapanmu” tegas ikan gabus.
“ kalau kamu memang benar, tunjukkan benda apa yang
ajaib itu?”tanya si pemuda selanjutnya.
“dalam mulutku ada sebuah cincin sakti, kamu cukup
menyebutkan keinginanmu dan mohon pada Tuhan, lalu pukul cincin itu 3 kali,
maka mudah-mudahan keinginanmu itu akan terkabul”
“ oo begitu, baiklah aku akan melepaskanmu, tapi
awas, jika kamu menipuku maka aku akan tak akan melepaskanmu lagi” ancam si
pemancing
“aku ta berkata bohong pemuda, kamu boleh minta apapun
yang kamu inginkan dengan satu syarat, kamu jangan sekali-sekali minta jadi
Tuhan, jika kamu langgar maka kamu akan kembali seperti semula ” jelas ikan
gabus.
Setelah menyerahkan cincin dan menjelaskan semuanya,
ikan gabuspun dilepas dan pemuda pulang tanpa seekor ikanpun.
Sesampai dirumah, pemuda itu lalu mencoba kesaktian
cincinnya, karena sangat lapar kontan saja ia lalu meminta makanan yang lezat
dan lengkap.
“aku ingin makanan yang lezat dan lengkap dengan
segala macam variasinya, thik-thik-thik” kata si pemuda sambil memukul
cincinnya tiga kali.
lhaap... dengan ajaib tiba-tiba saja terhamparlah
makanan seperti yang diminta, dan makanlah pemuda dengan lahap karena seumur
hidup ia sama belum pernah makan seenak itu.
Berkat cincin itu, dengan cepat berubahlah kehidupan
sang pemuda, kini ia telah memiliki istri yang cantik, rumah yang megah lengkap
segala macam perabot mewah, puluhan pembantu yang siap melayani dan mengurus
kekayaannya, serta harta lain yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Semua itu diperolehnya dengan sangat mudah, tanpa
kerja keras, sehingga kegiatan yang dilakukannya pun hanya tidur dan makan saja
sehingga tubuhnya yang dulu kurus kering, kini berubah jadi gemuk dan terawat.
Hidup bergelimang harta tentu saja tidak selalu
menyenangkan, karena kebahagiaan tidak hanya tergantung pada harta. Agaknya
demikian pula yang dirasakan si pemancing yang kini telah jadi tersebut.
Ia merasa bosan tinggal dirumahnya, karenanya ia ingin
berjalan-jalan ke kota untuk mencari hiburan di kota bersama istri dan beberapa
pembantunya.
Sesampai di kota, ia begitu heran dengan keramaian
dan indahnya bangunan-bangunan yang ada dikota yang sama sekali belum pernah
dilihatnya.
Saat sedang berbelanja di pasar, tiba-tiba ada
serombongan orang yang melintasi jalan pasar tersebut.
Diantara rombongan tersebut ada seorang yang nampak
begitu beda dengan yang lain, dan nampak begitu dihormati karena semua orang
berdiri di pinggir jalan untuk memberi penghormatan, setelah rombongan tersebut
berlalu, barulah mereka membubarkan diri melanjutkan aktivitas masing-masing.
Si pemancing kaya tersebut begitu heran dan
bertanya-tanya siapakah orang yang begitu dihormati tersebut, sehingga ia
bertanya kepada salah seorang penduduk pasar.
“ beliau adalah raja kami yang mulia raja
darmahendra, beliau akan pergi ke kerajaan seberang untuk suatu keperluan” jawab orang tersebut.
Mendengar jawaban tersebut, masuk ke dalam pikirannya
begitu enak jadi seorang raja dihormati semua orang, sehingga terlintas dalam
hatinya keinginan untuk menjadi seorang raja.
Tanpa dapat menahan keinginannya, segera saja ia
menggunakan cincin saktinya untuk mewujudkan harapan itu.
Dan benar saja, dalam sekejap ia pun kini sudah duduk
di singgasana dikelilingi banyak pengawal dan pelayan dengan segala fasilitas
istana yang demikian lengkap.
Sekali lagi, terkabul keinginan si pemancing yang belum
juga puas dengan semua yang sudah dimilikinya.
Namun setelah beberapa waktu, lagi-lagi ia menemui
rasa jenuh dengan posisi yang sudah ia capai saat ini, bahkan ketika telah
menjadi seorang raja sekalipun.
Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan
mengelilingi kerajaannya yang luas yang belum ia tahu seberapa luasnya sambil
menghilangkan bosan.
Dalam perjalanan tersebut sang raja bertemu dengan
sekelompok orang yang akan pergi ke tempat ibadah, sang raja pun penasaran dan
bertanya pada pengawalnya: “ mereka mau kemana dan apa yang akan mereka
lakukan”?
“ mereka adalah orang-orang islam yang akan pergi ke
masjid untuk beribadah” jawab sang pengawal
“apa yang mereka lakukan dalam kegiatan itu”?tanya
raja selanjutnya.
“mereka menyembah Tuhan mereka, dan mereka juga
berdoa agar keinginan mereka terpenuhi” jelas sang pengawal.
Sang raja yang memang sudah lama melupakan Tuhan
tentu saja kagum dengan penjelasan pengawalnya itu, dan seperti biasanya, ia
pun memiliki keinginan baru dari apa yang ia temui.
Dan benar saja, tanpa berlama-lama sang raja pun
segera mengikuti keinginan hawa nafsunya untuk meminta agar menjadi Tuhan,
agaknya ia lupa dengan pesan ikan gabus karena waktu telah berlalu beberapa
lama.
“aku ingin agar aku menjadi Tuhan, thik thik
thik...”demikian kata sang raja sambil memukul cincinnya 3 kali.
Namun keanehan terjadi, jika biasanya apa yang
terucap akan terwujud seketika setelah selesai cincin dipukul, maka pada kali
ini, tidak terjadi apa, sehingga untuk pertama kalinya sang raja mengulangi
permintaannya.
Mungkin sang raja tak menyadari bahwa tidak
terwujudnya keinginan ini karena hal ini terlarang baginya, sehingga tetap saja
ia mencoba berkali-kali.
Pada pengulangan ketujuh, dengan kesal sang raja
hampir saja membuang cincin yang dianggapnya tak sakti lagi, namun sesuatu
tiba-tiba terjadi.
Suasana mendadak gelap dan sang raja seperti diputar
dalam pusaran angin sehingga ia terlempar jauh hingga tak sadarkan diri sampai
beberapa lama.
Begitu siuman, sang raja yang awalnya seorang pemancing
kembali ke posisi semula persis seperti saat ia menangkap ikan gabus dulu.
Baru ia sadar dan ingat bahwa ia telah melanggar
larangan ikan gabus, segera saja ia meraung-raung menyesal, dan berteriak minta
tolong dengan memanggil ikan gabus.
Namun ikan gabus tak mendengar panggilannya dan ia
pulang dengan meratapi nasib yang menimpanya.
Sahabat SKM, kisah ini setidaknya memberi 2 pelajaran pada kita,
Pertama : bahwa sesuatu yang diperoleh tanpa perjuangan dan kerja keras tidak akan berbekas dalam hati kita dan tak akan menimbulkan rasa puas dan kebahagiaan.
Kedua: seseorang memang memiliki hawa nafsu dan
keinginan untuk selalu dipuaskan, menuruti keinginan secara berlebihan akan
membawa efek negatif dalam kehidupan kita.

Comments
Post a Comment